PONTIANAK — Langkah ini diambil sebagai respons atas pengaruh besar media sosial yang kini menjadi ruang berbagi informasi sekaligus rawan memicu kesalahpahaman. Edi Rusdi Kamtono membuka langsung pembinaan lembaga keagamaan yang dihadiri para pengurus agama se-Kota Pontianak pada Senin lalu.
Menurut Edi, di era digital, kedewasaan berpikir dan wawasan yang luas menjadi tameng utama bagi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat merusak kerukunan. Ia menekankan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang harus disikapi dengan bijak oleh seluruh elemen masyarakat.
“Media sosial ini rawan juga, tetapi kadang-kadang juga bisa menjadi ruang pencerahan. Karena itu perlu kedewasaan, wawasan, dan logika berpikir,” ujar Edi di hadapan para peserta pembinaan.
Wali Kota Pontianak itu mengingatkan bahwa dalam bermasyarakat dan bernegara, seluruh warga harus kembali kepada nilai-nilai dasar yang menjadi pegangan bersama. Ia menyebut Pancasila sebagai dasar negara, sementara bagi umat Islam, Al Quran dan hadis menjadi pedoman utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pemkot Pontianak berkomitmen memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman. Menurut Edi, kebebasan beragama tersebut harus dijaga melalui tiga pilar utama, yakni literasi, toleransi, dan komunikasi yang baik antarumat.
“Pemerintah Kota Pontianak berupaya selalu memberikan ruang kebebasan beragama. Kuncinya adalah literasi, toleransi, dan bagaimana kita menjadikan kota ini harmonis, aman, sejahtera, serta tenang dalam beribadah,” kata dia.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak Ruslan menambahkan, pembinaan keagamaan kali ini mengusung semangat toleransi dan moderasi beragama. Hal ini dinilai sejalan dengan visi Wali Kota Pontianak dalam mewujudkan kota yang bersahabat bagi seluruh warganya.
Ruslan mengajak seluruh lembaga keagamaan untuk terus memperkuat pembinaan umat dengan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Ia menegaskan bahwa lembaga keagamaan memiliki peran strategis sebagai ruang menumbuhkan kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat.
“Sesuai dengan visi yang diusung Wali Kota Pontianak, yaitu mewujudkan Kota Pontianak sebagai kota yang bersahabat, maka dalam pembinaan keagamaan yang kita kedepankan adalah semangat toleransi dan moderasi beragama,” jelas Ruslan.
Menurutnya, moderasi beragama merupakan kunci utama menjaga suasana kota tetap aman dan damai. Jika nilai-nilai tersebut terus dikembangkan, kerukunan antarumat beragama di Pontianak akan semakin kuat dan menjadi modal penting dalam melaksanakan pembangunan daerah.
“Ini kunci untuk melaksanakan pembangunan. Jika Kota Pontianak tidak aman dan damai, tentu sulit mewujudkan pembangunan, baik lahir maupun batin,” pungkasnya.