KALIMANTAN BARAT — Michael Olise mencetak tiga gol dalam 10 menit terakhir untuk membawa Prancis menang atas Belgia di UEFA Nations League. Penampilan impresif pemain sayap itu mengubah pertandingan ketat menjadi pesta gol, sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling berbahaya saat ini.
Pertandingan antara dua tim terbaik dunia itu berlangsung sengit sejak awal. Belgia sempat menyulitkan Prancis dengan pressing ketat dan disiplin pertahanan rapat, terutama saat mengawal Ousmane Dembélé yang tampil aktif di lini serang.
Dembélé sebenarnya tampil cukup merepotkan. Namun Belgia dengan cepat membaca pergerakannya, menggandakan penjagaan karena tahu ia kerap berlama-lama menguasai bola. Sentuhan ekstra dan dribel tambahan itu memberi bek Belgia waktu untuk menutup ruang sebelum bola sampai ke rekan setim.
Pada menit ke-60, pelatih Prancis Zinedine Zidane melakukan pergantian untuk mengguncang timnya. Dembélé ditarik keluar, dan Michael Olise masuk sebagai pengganti langsung. Momen menarik terjadi saat Dembélé menyerahkan ban kapten kepada Olise.
Sebuah klip yang beredar di internet memperlihatkan reaksi Olise saat menerima ban kapten. Ia tampak bingung, seolah tidak mengerti mengapa dirinya diberi kehormatan itu, mengingat ia bukan kapten atau wakil kapten tim.
Begitu masuk, penonton langsung bergemuruh. Setiap kali Olise menyentuh bola, tribun berdiri dan menahan napas. Sepanjang Piala Dunia, ia sudah membuat tujuh assist dan tak terhitung momen magis. Sebelumnya ia juga mencetak gol telat untuk mengalahkan Belgia pada akhir September.
Gol pertama Prancis justru datang dari Désiré Doué, yang masuk menggantikan Bradley Barcola sebelum Olise turun. Setelah kedudukan imbang, Olise mengambil alih pertandingan.
Pada menit ke-80, ia melewati penjaganya dengan mudah di sisi lapangan dan melepas umpan tarik yang diselesaikan Rayan Cherki. Tujuh menit kemudian, Olise menerima bola dari Doué di sisi kanan kotak penalti. Dikepung beberapa bek yang menarik-narik tubuhnya, ia melepas tembakan lemah dengan kaki kanan yang mengejutkan kiper dan masuk ke sudut kiri bawah.
Tiga menit berselang, tepatnya menit ke-90, Olise berlari menembus tengah dan kembali menerima umpan Doué. Dengan satu sentuhan, ia menuntaskan bola melewati sela kaki kiper. Gol keempatnya dalam empat pertandingan terakhir.
Olise sering dituduh bermain dengan sikap acuh tak acuh. Tuduhan itu keliru jika menontonnya secara utuh, bukan sekadar potongan highlight. Gaya bermainnya memang mengalir dan anggun, tapi bukan berarti ia tidak berusaha.
Gayanya mirip Zidane. Keanggunan itu lahir dari keinginan menghibur penonton sekaligus efisiensi gerakan. Jika bahaya Dembélé datang dari banyaknya cara melewati lawan, Olise mengalahkan bek dengan melakukan hal-hal sederhana secara sangat baik.
Saat mengontrol bola, ia menempatkannya untuk menyiapkan langkah berikutnya. Saat berlari, ia mendorong bola dengan kekuatan pas agar bisa melewati bek atau melepas umpan. Ketika dihadapkan pada beberapa pilihan di depan gawang, ia biasanya memilih yang terbaik.
Bukan berarti semua yang dilakukannya berujung sukses. Ketidakmampuannya mencetak gol selama Piala Dunia sempat membuatnya seperti terkena kutukan. Namun ia hampir selalu membuat keputusan tepat dengan bola di kakinya.
Ban kapten tidak selalu menandakan pemain terbaik di lapangan. Perdebatan itu kini terpusat pada Ballon d'Or. Namun penampilan Olise melawan Belgia menunjukkan bahwa kehormatan sesungguhnya datang dari cara penonton merespons setiap sentuhan bola.
Prancis menutup pertandingan dengan kemenangan meyakinkan. Olise tidak sekadar memenangkan laga, ia mengubah pertandingan sulit antara dua tim terbaik dunia menjadi pesta gol hanya dalam sepuluh menit.