PONTIANAK — Satu dari 23 kasus hantavirus yang tercatat secara nasional oleh Kementerian Kesehatan berasal dari Kalimantan Barat. Pasien tersebut meninggal pada Minggu (3/5/2026) setelah menjalani perawatan sejak Sabtu (2/5/2026).
Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, Harisson, mengonfirmasi spesimen pasien telah dinyatakan positif hantavirus oleh Dinas Kesehatan provinsi. “Iya, ditemukan satu kasus virus Hanta di Kalbar. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes Provinsi,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Gejala Muncul Empat Hari Sebelum Masuk Rumah Sakit
Harisson menjelaskan kondisi pasien sudah sangat buruk saat pertama kali tiba di rumah sakit. Tubuhnya mengalami ikterik atau menguning, tidak ada produksi urine (anuria), dan demam tinggi yang berlangsung selama empat hari.
“Pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi umum yang sangat buruk,” kata Harisson.
Penanganan Berfokus pada Deteksi Dini dan Pengendalian Tikus
Pemerintah Provinsi Kalbar memastikan penanganan kasus ini sesuai standar operasional prosedur dari Kementerian Kesehatan. Langkah yang dilakukan mencakup deteksi dini, isolasi, terapi suportif, hingga pengendalian lingkungan.
“Penanganan virus hanta berfokus pada deteksi dini, isolasi, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan dan tikus sebagai sumber penularan,” ujar Harisson.
Hantavirus ditularkan melalui kontak dengan urine, liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, sesak napas, dan gangguan ginjal.
Warga Diminta Segera Periksa Jika Alami Gejala Setelah Kontak dengan Lingkungan Berisiko
Harisson mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta menghindari kontak langsung dengan tikus atau barang yang terkontaminasi. Pemerintah daerah terus mengedukasi warga agar segera memeriksakan diri jika mengalami gejala setelah berada di lingkungan berisiko.