Pencarian

3 Fakta Program Spesialis Untan: Atasi Krisis Dokter Anestesi, Buka Prodi Farmasi, dan Target Kemandirian Kesehatan Kalbar

Selasa, 19 Mei 2026 • 22:40:01 WIB
3 Fakta Program Spesialis Untan: Atasi Krisis Dokter Anestesi, Buka Prodi Farmasi, dan Target Kemandirian Kesehatan Kalbar
Peluncuran Program Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi Untan untuk atasi kekurangan dokter spesialis di Kalbar.

PONTIANAK — Angka itu menjadi alarm bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Data profil kesehatan per Maret 2026 menunjukkan pemenuhan dokter spesialis anestesi di daerah ini masih sangat timpang. Dari kebutuhan ideal 115 orang, baru 42 dokter yang tersedia. Artinya, kekurangan mencapai 73 orang atau 63,58 persen.

Sekretaris Daerah Kalbar dr. Harisson, M.Kes., mengatakan kondisi ini membuat pelayanan pasien dalam situasi kritis di rumah sakit rentan terhambat. “Dokter anestesi merupakan garda terdepan keselamatan pasien dalam situasi kritis,” ujarnya dalam peluncuran program di Hotel Mercure Pontianak.

Kekurangan Dokter Anestesi Capai 63 Persen

Ketimpangan distribusi tenaga medis spesialis tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Pontianak dan Singkawang. Wilayah perbatasan, pesisir, dan pedalaman menjadi yang paling terdampak. Banyak rumah sakit di daerah terpencil belum memiliki dokter anestesi sama sekali.

Harisson menegaskan bahwa Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif di Fakultas Kedokteran Untan hadir untuk memutus ketergantungan Kalbar terhadap dokter spesialis dari luar daerah. “Kita tidak boleh terus-menerus bergantung pada daerah lain,” katanya.

Dua Program Studi Baru: Spesialis Dokter dan Magister Farmasi

Peluncuran program ini dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Dua program studi yang dibuka adalah:

  • Program Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif — menjawab kebutuhan dokter anestesi yang mendesak di Kalbar.
  • Program Magister Ilmu Farmasi — fokus pada riset dan inovasi berbasis kekayaan alam lokal Kalimantan Barat.

Harisson berharap program spesialis ini melahirkan dokter putra-putri daerah yang memahami kondisi Kalbar dan siap mengabdi di kampung halamannya. “Kita membutuhkan lebih banyak dokter spesialis yang dididik di tanahnya sendiri,” ucapnya.

Biodiversitas Kalbar Jadi Modal Riset Farmasi

Di sisi lain, Program Magister Ilmu Farmasi dinilai strategis untuk menggali potensi obat-obatan berbasis bahan alam. Kalimantan Barat memiliki kekayaan biodiversitas yang melimpah, mulai dari tanaman obat hutan hingga biota perairan.

“Sudah saatnya perguruan tinggi mengambil peran terdepan dalam membangun kemandirian riset dan pengembangan obat berbahan alam,” kata Harisson. Pemerintah provinsi mendukung penuh terobosan ini sebagai investasi jangka panjang di bidang pendidikan dan kesehatan.

Wamendiktisaintek: Dokter Daerah Lebih Betah Mengabdi

Wakil Menteri Fauzan mengapresiasi langkah Untan dan Pemprov Kalbar. Menurutnya, persoalan kesehatan di Indonesia bukan hanya kekurangan dokter, tetapi juga distribusi yang tidak merata. “Kalau dokter berasal dari daerah sendiri, pemerintah daerah tidak akan terus disibukkan dengan perpindahan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ia juga mendorong pembentukan konsorsium pendidikan tinggi di Kalimantan Barat untuk memperkuat riset dan pengabdian masyarakat. Program studi baru ini, kata Fauzan, diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat inovasi kesehatan daerah.

Bagikan
Sumber: majalahmataborneonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks