PONTIANAK — PKSN XIII 2026 resmi dibuka dengan nuansa budaya Dayak di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pekan lalu. Ajang yang digelar oleh Gereja Katolik ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi forum kritis untuk membahas tantangan era digital, khususnya dampak kecerdasan buatan terhadap relasi sosial umat.
Panitia mengusung tema komunikasi yang menyatukan sebagai antitesis dari fragmentasi sosial yang dipicu oleh algoritma dan interaksi artifisial. "Kami ingin mengingatkan bahwa komunikasi sejati lahir dari pertemuan dan dialog, bukan dari layar gawai," ujar seorang perwakilan panitia dalam sambutannya.
Mengapa AI Dianggap Mengancam Relasi Sosial Umat?
Dalam sesi diskusi utama, para pembicara menyoroti bagaimana platform digital dan AI kerap menggantikan percakapan tatap muka dengan interaksi yang dangkal. Umat dinilai semakin kehilangan empati karena terbiasa berkomunikasi melalui teks dan emoji.
Gereja Katolik melihat fenomena ini sebagai krisis kemanusiaan. Komunikasi yang humanis, menurut mereka, adalah fondasi untuk membangun persaudaraan sejati, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh chatbot atau algoritma rekomendasi konten.
Apa Dampak Nyata bagi Masyarakat Kalimantan Barat?
Kalimantan Barat, dengan keberagaman suku dan agama, menjadi lokasi yang relevan untuk diskusi ini. Masyarakat di daerah ini masih sangat mengandalkan gotong royong dan komunikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tradisi menanam padi hingga upacara adat.
Jika komunikasi humanis tergerus, para tokoh masyarakat khawatir kerukunan yang sudah terjalin puluhan tahun bisa terancam. PKSN XIII 2026 hadir untuk memperkuat kembali nilai-nilai kebersamaan melalui pendekatan komunikasi yang lebih sadar dan bermakna.
Bagaimana Bentuk Komunikasi yang Menyatukan?
Para peserta diajak untuk kembali ke praktik komunikasi dasar: mendengarkan aktif, berbicara dengan hati, dan hadir secara utuh dalam setiap interaksi. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis, seperti cara memanfaatkan media sosial tanpa kehilangan esensi kemanusiaan.
Gereja Katolik juga mendorong umat untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diminta untuk memulai dari hal kecil, seperti menyapa tetangga atau mengobrol langsung dengan keluarga tanpa gangguan ponsel.
Komunikasi Humanis vs AI: Siapa yang Paling Terdampak?
Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif AI. Mereka tumbuh di era digital dan sering kali lebih nyaman berinteraksi secara virtual. PKSN XIII 2026 menyasar kaum muda dengan berbagai workshop interaktif yang mengajarkan seni berdialog dan berdebat secara sehat.
Dengan pendekatan ini, diharapkan generasi penerus tidak kehilangan kemampuan dasar untuk bersosialisasi. "Kami ingin anak muda Pontianak menjadi pelopor komunikasi yang menyatukan, bukan memecah," tegas panitia dalam sesi penutupan.