KALIMANTAN BARAT — Manajemen Hotel Fitra International mengambil keputusan radikal di tengah tekanan bisnis perhotelan yang belum sepenuhnya pulih. Alih-alih bertahan di sektor akomodasi, perusahaan memilih mengakuisisi perusahaan tambang untuk mencari sumber pendapatan baru yang lebih prospektif.
Mengapa Tambang Nikel Jadi Target Akuisisi
PT Venturi Tambang Perkasa bergerak di bidang jasa pertambangan, sebuah sektor yang tengah bergairah seiring melonjaknya permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik. Dengan mengakuisisi perusahaan ini, FITR tidak lagi semata-mata bergantung pada pendapatan dari kamar hotel dan restoran.
Langkah ini dinilai lebih cepat mendongkrak kinerja ketimbang membangun bisnis tambang dari nol. Akuisisi memberikan akses langsung terhadap kontrak dan jaringan usaha yang sudah berjalan.
Dari Hotel ke Investasi: Skema Baru Bisnis
Pasca-akuisisi, struktur bisnis FITR berubah total. Perusahaan resmi menyandang status sebagai perusahaan investasi dengan fokus utama di sektor jasa pertambangan. Artinya, ke depan pendapatan perusahaan tidak lagi berasal dari operasional hotel secara langsung, melainkan dari hasil investasi di anak usaha dan portofolio bisnis tambang.
Bagi investor, perubahan ini membuka peluang baru. Saham FITR yang sebelumnya bergerak di sektor siklikal perhotelan kini masuk dalam peta bisnis sumber daya alam yang tengah naik daun. Namun, tantangan integrasi bisnis dan risiko fluktuasi harga komoditas tetap menjadi catatan.
Keputusan akuisisi ini sudah melalui mekanisme persetujuan direksi dan dewan komisaris. Manajemen optimistis transformasi ini akan mulai terlihat dampaknya terhadap laporan keuangan dalam dua hingga tiga kuartal ke depan.