Pencarian

Mengapa Smartwatch Tidak Pakai USB-C Padahal Lebih Cepat dan Praktis

Kamis, 02 Juli 2026 • 02:35:31 WIB
Mengapa Smartwatch Tidak Pakai USB-C Padahal Lebih Cepat dan Praktis
Ukuran port USB-C yang besar menjadi kendala utama dalam desain smartwatch.

KALIMANTAN BARAT — Pengguna smartwatch pasti pernah bertanya: kenapa jam tangan pintar mahal masih pakai kabel charging proprietary yang ribet dicari penggantinya? Padahal USB-C sudah jadi standar universal di hampir semua gadget modern — dari MacBook, iPad, hingga ribuan model HP Android. Jawabannya ternyata bukan karena produsen malas, melainkan karena beberapa alasan teknis dan strategi bisnis yang cukup masuk akal.

Masalah Utama: Ukuran Fisik Port

USB-C punya dimensi 8,4 mm x 2,6 mm. Bandingkan dengan bodi smartwatch yang ketebalannya rata-rata hanya 10-14 mm. Memasang port USB-C di samping casing jam tangan pintar berarti harus mengorbankan ruang internal yang sangat terbatas — padahal di situ ada baterai, motor getar, sensor detak jantung, hingga chip NFC.

Beberapa merek seperti Garmin dan Amazfit sudah mencoba solusi alternatif dengan cradle magnetik yang punya pin USB-C di ujung kabel. Tapi port di jamnya sendiri tetap pakai konektor proprietary yang lebih kecil dan rata. Ini karena desain pogo pin — kontak pegas yang mentransfer daya — bisa dibuat jauh lebih tipis dibanding soket USB-C standar.

Daya Tahan Air dan Debu Jadi Prioritas

Smartwatch kelas menengah ke atas umumnya punya sertifikasi IP68 atau 5 ATM (tahan kedalaman 50 meter). Untuk mencapai rating ini, setiap lubang di casing harus disegel rapat. Port USB-C, dengan desain rongga yang relatif dalam dan rumit, butuh mekanisme penutup tambahan yang justru jadi titik lemah kebocoran air.

Sebaliknya, konektor proprietary berbasis pogo pin atau cradle magnetik bisa didesain tanpa celah terbuka. Permukaannya rata dan mudah dibersihkan, sehingga risiko korosi akibat keringat atau air laut lebih kecil. Buat pengguna yang sering olahraga atau berenang, ini bukan masalah sepele.

Strategi Ekosistem: Kabel Jadi Sumber Pendapatan

Dari sisi bisnis, kabel dan cradle charging adalah aksesori dengan margin keuntungan tinggi. Apple menjual kabel pengisi daya magnetik untuk Apple Watch seharga Rp 590.000 per unit. Samsung punya kabel charging pad untuk Galaxy Watch yang dijual Rp 450.000. Jika semua smartwatch pakai USB-C standar, pasar aksesori pihak ketiga dari Anker, Baseus, atau Ugreen akan langsung membanjiri — dan pendapatan produsen dari lini aksesori resmi bisa tergerus.

Belum lagi soal kecepatan pengisian. Teknologi fast charging proprietary seperti Warp Charge atau SuperCharge butuh protokol khusus yang tidak sepenuhnya kompatibel dengan standar USB-C biasa. Produsen smartwatch lebih suka mengontrol sendiri arus dan tegangan pengisian daya lewat kabel eksklusif mereka.

Apakah Akan Ada Perubahan ke Depan?

Uni Eropa sudah mewajibkan USB-C sebagai port pengisian standar untuk ponsel, tablet, dan kamera mulai 2024. Tapi regulasi ini belum mencakup perangkat wearable seperti smartwatch. Selama tidak ada tekanan hukum, produsen kemungkinan besar akan mempertahankan desain konektor mereka sendiri — kecuali jika ada terobosan teknologi yang bisa mengecilkan port USB-C hingga seukuran pogo pin.

Beberapa merek China seperti Xiaomi dan Huawei sudah mulai bereksperimen dengan kabel charging magnetik yang ujungnya USB-C, tapi masih menggunakan pin proprietary di sisi jam. Jadi untuk saat ini, pengguna smartwatch harus tetap menerima kenyataan: bawa kabel khusus kemanapun pergi.

Bagikan
Sumber: bgr.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks