SANGGAU — Gimbap, hidangan khas Korea yang populer di kalangan anak muda, kini hadir dengan sentuhan lokal di Sanggau. Warung Zuki, usaha yang dirintis Zulruari sejak awal 2025, menawarkan menu tersebut dengan isian nasi campuran beras ketan dan beras biasa, telur dadar, wortel, serta timun.
Zulruari mengaku sempat ragu apakah produknya akan diterima masyarakat Sanggau yang belum familier dengan gimbap. “Awalnya kami ragu apakah gimbap lokal ini bakal diterima. Tapi setelah kami coba uji pasar, rupanya produk kami diminati sejak minggu-minggu pertama,” ujarnya kepada RRI Pro 3, Minggu (12/7/2026).
Dari Gerobak Gagal ke Gimbap Laris
Perjalanan bisnis Zulruari tidak mulus. Sejak 2022, saat masih berkuliah, ia sempat berjualan sate taichan dan ayam geprek menggunakan gerobak. Usaha itu akhirnya tutup karena manajemen pemasaran dan branding yang belum matang.
“Karena waktu itu manajemennya masih belajar dari sisi pemasaran dan branding. Meski akhirnya tutup,” kenangnya.
Setelah kembali ke Sanggau pada 2025, ia melihat celah pasar: belum ada produk gimbap di daerah tersebut. Ia pun memutuskan mencoba peruntungan dengan konsep “gimbap lokal” yang disesuaikan dengan lidah masyarakat setempat.
Media Sosial Jadi Kunci Promosi ke Desa-Desa
Tantangan terbesar bukanlah proses produksi, melainkan memperkenalkan makanan asing ke masyarakat. Zulruari mengandalkan media sosial dan berkolaborasi dengan akun Instagram lokal untuk memperluas jangkauan.
“Tantangannya bagaimana membuat masyarakat tahu produk kami. Awalnya kami juga dibantu akun Instagram lokal yang memposting produk-produk UMKM sehingga masyarakat mulai mengenal Warung Zuki,” jelasnya.
Strategi itu membuahkan hasil. Pelanggan Warung Zuki tidak hanya berasal dari Kota Sanggau, tetapi juga dari sejumlah desa di sekitarnya.
Masih Online, Berdua dengan Istri
Saat ini, Warung Zuki masih beroperasi secara daring dengan sistem pemesanan. Zulruari mengelola usaha itu sendirian bersama istrinya. “Alhamdulillah peminatnya makin bertambah. Kami masih melayani secara online dan dikelola berdua bersama istri,” katanya.
Ia berencana menambah menu seperti tteokbokki dan corndog, tetapi keterbatasan kapasitas produksi membuat rencana itu belum bisa direalisasikan. Ke depan, Zulruari berharap bisa terus mengembangkan usahanya dengan menghadirkan lebih banyak variasi menu bagi masyarakat Sanggau.