KALIMANTAN BARAT — Kabar ini mungkin membawa angin segar bagi pengguna yang merindukan era baterai swappable. Regulasi baru Uni Eropa yang berlaku efektif Februari 2027 menuntut semua ponsel dan tablet yang dipasarkan di kawasan tersebut menggunakan baterai yang dapat dilepas oleh pengguna akhir. Tujuannya jelas: memperpanjang umur pakai perangkat dan memangkas limbah elektronik, sekaligus memudahkan daur ulang material mentah seperti litium dan kobalt dari baterai bekas.
Dampaknya tidak akan berhenti di benua biru. Pengalaman dengan aturan USB-C menunjukkan bahwa produsen cenderung memilih satu desain global ketimbang membuat varian khusus untuk satu wilayah. Hasilnya, konsumen di luar Eropa—termasuk Indonesia—kemungkinan besar ikut merasakan perubahan ini.
Baterai Lepas Pasang: Bukan Berarti Penutup Belakang Dicabut Pakai Kuku
Penting untuk meluruskan ekspektasi. Baterai "removable" versi regulasi UE tidak sama dengan desain HP jadul yang penutup belakangnya bisa dibuka dengan kuku. Aturan tersebut menyatakan baterai dianggap dapat dilepas jika menggunakan alat yang tersedia secara umum, seperti obeng. Penggunaan perekat yang memerlukan panas atau pelarut khusus juga dilarang, kecuali produsen menyediakan alatnya secara gratis.
Artinya, kita mungkin akan melihat lebih banyak ponsel dengan sekrup di bodinya, atau produsen menyertakan obeng mini di dalam kotak penjualan. Desain ini masih memungkinkan bodi tipis dan material premium, meski proses mengganti baterai jadi sedikit lebih ribet daripada sekadar membuka penutup belakang.
Mengapa Baterai Tanam Sempat Menjadi Standar Industri?
Pergeseran ke baterai tanam bukan tanpa alasan. Ada tiga faktor utama yang mendorong produsen meninggalkan desain lama. Pertama, tuntutan desain tipis. Baterai lepas pasang membutuhkan mekanisme tambahan seperti klip dan sekrup yang bikin bodi lebih tebal. Kedua, preferensi material premium. Konsumen kini lebih suka bodi kaca dan aluminium yang terkesan mewah, namun kaca terlalu rapuh untuk dijadikan penutup belakang yang bisa dibuka tutup. Ketiga, ketahanan terhadap air dan debu. Bodi yang tersegel rapat adalah kunci untuk mendapatkan sertifikasi IP68, yang memungkinkan ponsel terendam air hingga kedalaman tertentu.
Samsung Galaxy S5 (2014) adalah contoh nyata transisi ini. Ponsel tersebut masih punya baterai lepas pasang, tapi harus memakai bodi plastik. Bandingkan dengan iPhone 17 series yang bersertifikasi IP68 dan bisa bertahan di kedalaman 19 kaki selama 30 menit—sebuah pencapaian yang sulit diraih dengan penutup belakang yang mudah dibuka.
Galaxy XCover 7 Pro dan Fairphone 6: Bukti Desain Ini Masih Bertahan
Meski langka, ponsel dengan baterai lepas pasang masih bisa ditemukan di pasaran pada 2026. Samsung Galaxy XCover 7 Pro adalah salah satunya. Ponsel rugged ini punya baterai 4.350 mAh yang bisa ditukar dengan mudah, dirancang untuk pengguna yang sering berada di medan terjal—mendaki gunung atau bekerja di lapangan. Menariknya, ponsel ini tetap mengantongi sertifikasi IP68. Samsung memakai segel di berbagai komponen internal seperti kamera dan gasket di penutup belakang untuk melindungi bagian dalam dari air dan debu.
Fairphone 6, yang dikenal dengan filosofi keberlanjutannya, juga masih setia pada baterai yang bisa diganti. Namun, desainnya berubah. Untuk membuat bodi lebih ramping, baterai kini diamankan dengan lima sekrup. Prosesnya memang lebih lama, tapi tetap bisa dilakukan pengguna di rumah. Baik XCover 7 Pro maupun Fairphone 6 sama-sama menggunakan bodi plastik, menegaskan bahwa pilihan material masih menjadi tantangan terbesar untuk desain ini.
Ada Celah Regulasi: Apple Mungkin Tidak Perlu Ubah Desain iPhone
Regulasi UE ternyata menyediakan celah yang bisa dimanfaatkan Apple. Aturan tersebut menyatakan bahwa produsen tidak wajib menyediakan baterai ke pengguna akhir jika perangkatnya memenuhi persyaratan tertentu. Sebagai gantinya, mereka cukup menyuplai baterai ke tukang servis profesional. Syaratnya antara lain kapasitas baterai model tersebut harus masih berada di level tertentu setelah periode pemakaian tertentu.
Dengan celah ini, Apple bisa saja tetap mempertahankan desain iPhone yang sekarang dan mengarahkan pengguna untuk mengganti baterai di service center resmi. Namun, keputusan ini akan sangat bergantung pada interpretasi teknis dan tekanan publik di Eropa sendiri.
Bagi pengguna di Indonesia, perubahan ini mungkin baru terasa beberapa tahun lagi. Namun satu hal yang pasti: era ponsel yang "disegel" rapat mungkin akan segera berakhir, dan kita akan punya lebih banyak kendali atas perangkat yang kita miliki.