Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengingatkan para penyuluh agama untuk terus memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di tengah keberagaman masyarakat. Pesan ini disampaikannya saat membuka Dialog Kebangsaan melalui Semangat Lintas Agama di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu. Bahasan menegaskan bahwa ego agama dan ego suku sudah saatnya ditinggalkan demi harmoni kehidupan bermasyarakat.
PONTIANAK — Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan meminta para penyuluh agama berperan aktif menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pesan kerukunan kepada masyarakat. Menurutnya, penyuluh memiliki jaringan kuat hingga ke majelis dan komunitas warga sehingga efektif untuk mengedukasi nilai-nilai toleransi.
“Kita sudah saatnya tidak ada yang namanya ego agama dan ego suku. Selaku orang beragama dan bersuku bangsa, kita dituntut untuk terus berlomba menunjukkan perilaku terbaik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di Pontianak, Rabu.
Pesan Toleransi Lewat Jaringan Majelis
Bahasan menaruh harapan besar kepada para penyuluh agar setiap kehadiran di tengah masyarakat tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga sosialisasi program pemerintah yang berdampak langsung pada warga.
“Saya berharap besar kepada para penyuluh agama. Jika hadir ke majelis maka tolong sampaikan edukasi dan sosialisasikan pesan-pesan toleransi serta program pemerintah yang berdampak kepada masyarakat,” katanya.
Ia menekankan bahwa setiap pemeluk agama meyakini agamanya sebagai jalan terbaik. Namun, keyakinan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau menjelekkan keyakinan orang lain.
“Agama yang kita peluk adalah yang terbaik menurut pemeluknya masing-masing tetapi tidak dengan menjelek-jelekkan atau menghina agama orang lain,” tegasnya.
Bukti Nyata Kerukunan di Pontianak
Pontianak yang dihuni beragam suku dan agama dinilai memiliki banyak contoh nyata kehidupan toleran. Salah satunya, rumah ibadah yang berdiri berdampingan dan tetap rukun selama bertahun-tahun.
“Di Pontianak Barat, ada gereja dan masjid yang hanya berbatasan dengan satu pagar. Sampai hari ini belum pernah terjadi konflik. Ini menandakan bahwa Kota Pontianak termasuk kota toleran,” jelas Bahasan.
Menurutnya, edukasi toleransi harus terus digencarkan, terutama kepada generasi muda, agar nilai kebersamaan tetap terpelihara di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.
Toleransi Dimulai dari Keluarga
Bahasan juga mengingatkan bahwa toleransi tidak hanya berlaku antarumat beragama, tetapi juga di dalam umat seagama. Perbedaan pandangan, aliran, maupun cara beribadah perlu disikapi dengan bijak sebagai bagian dari keberagaman.
“Toleransi itu ada dua, toleransi di antara umat seagama dan toleransi di antara umat beragama. Ini juga harus dipahami dan diedukasi,” tuturnya.
Ia mengajak masyarakat membangun harmoni mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, keluarga yang harmonis menjadi fondasi penting bagi terciptanya kerukunan di tingkat masyarakat, lintas agama, hingga kehidupan berbangsa.
“Toleransi harus dimulai dari keluarga, masyarakat, lintas agama, hingga kebangsaan,” pungkasnya.