SAMBAS — Upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di PLBN Aruk berlangsung khidmat sejak pukul 07.00 hingga 08.15 WIB. Ratusan peserta dari berbagai unsur hadir, mulai dari jajaran Pemerintah Kabupaten Sambas, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), TNI, Polri, hingga pelajar dari tingkat sekolah dasar sampai SMA/SMK se-Kecamatan Sajingan Besar.
Yang membuat upacara tahun ini berbeda adalah pembagian peran pelaksana kegiatan yang melibatkan elemen masyarakat luas. Ketua Adat Dayak Sajingan Besar dipercaya membacakan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, sementara petugas paskibra berasal dari siswa SMA dan SMK. Paduan suara pun diisi oleh para pelajar SMP.
Keterlibatan Lintas Generasi di Halaman Terdepan Negara
Keterlibatan tokoh adat dan pelajar dalam posisi penting tersebut bukan sekadar seremoni. Hal ini menjadi gambaran nyata bahwa semangat persatuan tumbuh subur di kawasan yang kerap disebut sebagai beranda bangsa ini.
Suasana semakin semarak ketika rangkaian upacara usai. Sejumlah pertunjukan seni dan budaya menutup peringatan kali ini, dengan tarian khas Dayak dan penampilan seni suara yang menghibur para tamu undangan dan masyarakat yang hadir.
IPDN Bacakan Amanat Kepala BNPP: Perbatasan Bukan Daerah Belakang
Dalam kesempatan itu, sambutan Menteri Dalam Negeri selaku Kepala BNPP dibacakan oleh Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Dr. Halilul Khairi, S.Sos., M.Si. Pesan yang disampaikan menegaskan bahwa makna kemerdekaan tidak hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga membebaskan masyarakat dari kemiskinan, keterisolasian, dan ketertinggalan.
"Wilayah perbatasan bukanlah daerah belakang negara, melainkan halaman terdepan yang mencerminkan wajah Indonesia di mata dunia," demikian bunyi amanat yang dibacakan di hadapan peserta upacara.
Sejalan dengan tema HUT RI ke-81, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", pemerintah mendorong pembangunan kawasan perbatasan agar menjadi wilayah yang aman, produktif, dan berdaya saing. Negara harus menghadirkan infrastruktur memadai dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkembang.
PLBN Aruk Disiapkan Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Ke depan, PLBN Aruk diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai gerbang keluar-masuk orang dan barang. Gerbang negara ini juga ditargetkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pertukaran pengetahuan, serta penguatan hubungan sosial dan budaya antarwilayah.
Komitmen peningkatan pelayanan juga terus dilakukan melalui digitalisasi layanan yang terintegrasi, efektif, dan efisien. Langkah ini untuk memberikan kemudahan serta kenyamanan bagi masyarakat yang melintas di perbatasan.
Momen bersejarah ini turut dihadiri Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Indonesia yang tengah bertugas di Kawasan Transmigrasi Gerbang Mas Perkasa. Kehadiran mereka menjadi pengalaman berharga karena dapat merayakan kemerdekaan langsung di salah satu titik terdepan Indonesia.
Dari PLBN Aruk, semangat kemerdekaan menjadi pengingat bahwa perbatasan adalah beranda bangsa yang harus terus dibangun dan diperkuat. Perbatasan bukanlah garis belakang Indonesia, melainkan halaman depan yang menjadi simbol kemajuan, kedaulatan, dan masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.