KALIMANTAN BARAT — Jakarta — Pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional itu datang tak lama setelah INALUM memperkuat posisinya di pasar domestik. Pada Agustus 2026, PEFINDO menaikkan peringkat perusahaan dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable, naik satu tingkat setelah bertahan selama tiga tahun di level sebelumnya.
Dua pengakuan beruntun ini muncul saat INALUM tengah menyiapkan kebutuhan pendanaan yang lebih besar. Dana tersebut akan dipakai membiayai sejumlah proyek hilirisasi aluminium yang dijadwalkan berjalan pada periode 2026–2029.
Posisi Strategis di Grup MIND ID Jadi Kunci
S&P Global Ratings menilai posisi INALUM yang strategis di dalam Grup MIND ID serta dukungan kuat dari induk usaha sebagai faktor penting pembentuk profil kredit perusahaan. Keterkaitan strategis dan finansial antara keduanya dinilai memberi fondasi bagi keberlanjutan bisnis dan investasi.
Lembaga itu juga menyoroti peran INALUM dalam pengembangan industri aluminium nasional, terutama lewat hilirisasi bauksit dan pembangunan rantai nilai aluminium yang terintegrasi. Outlook stabil mencerminkan ekspektasi terhadap kinerja operasional, arus kas, serta dukungan MIND ID ke depan.
Struktur Biaya di Kuartil Pertama Dunia
Salah satu kekuatan yang diakui S&P adalah efisiensi biaya operasional INALUM. Pada 2026, biaya operasional perusahaan disebut berada di kuartil pertama kurva biaya global. Posisi itu ditopang ketersediaan energi hidro yang stabil dan pemanfaatan bahan baku domestik.
Penggunaan pembangkit listrik tenaga air memberi keuntungan ganda. Di satu sisi menekan emisi karbon, di sisi lain meningkatkan efisiensi produksi dan profitabilitas smelter. Struktur biaya yang kompetitif ini menjadi bekal INALUM menghadapi fluktuasi harga aluminium di pasar global.
Saat ini INALUM mengoperasikan smelter aluminium primer berkapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun. Di sisi bahan baku, perusahaan melalui kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) telah mengurangi ketergantungan terhadap impor alumina.
SGAR Mempawah Kurangi Ketergantungan Impor
BAI mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun. Fasilitas ini menjadi tulang punggung strategi hilirisasi bauksit INALUM, mengubah bahan mentah menjadi alumina yang siap diolah menjadi aluminium.
Bagi industri nasional, langkah ini mengurangi ketergantungan pada pasokan alumina impor yang selama ini membebani struktur biaya produsen aluminium dalam negeri. Hilirisasi bauksit juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bahan mentah untuk mendorong nilai tambah di dalam negeri.
Dengan peringkat investment grade di tangan, INALUM memiliki ruang lebih lebar untuk menarik investor global maupun menerbitkan surat utang dengan bunga kompetitif. Modal itu akan menentukan seberapa cepat rencana ekspansi 2026–2029 bisa dieksekusi.