Pencarian

FBI Bongkar Peternakan Laptop Pekerja IT Korea Utara di Texas

Rabu, 21 Oktober 2026 • 15:20:31 WIB
FBI Bongkar Peternakan Laptop Pekerja IT Korea Utara di Texas
Penyidik FBI menyita sekitar 187 laptop dan perangkat KVM dalam penggeledahan di lebih dari 40 rumah di Texas.

KALIMANTAN BARAT — Operasi Lonestar Roundup menyita sekitar 187 laptop dan perangkat KVM dalam penggeledahan lebih dari 40 rumah di Texas. Jaringan ini diduga dipakai pekerja IT Korea Utara untuk menembus sistem perusahaan AS dengan identitas curian, dan hasilnya disebut mengalir ke program persenjataan Pyongyang.

Dari total barang bukti, penyidik memisahkan sekitar 100 perangkat yang menurut dugaan mereka dipakai para pekerja IT Korea Utara bersama kaki tangannya di AS. Perangkat itu menjadi mesin utama skema penipuan lowongan kerja jarak jauh di wilayah Texas Utara.

Apa Itu Peternakan Laptop

Istilah laptop farm merujuk pada kumpulan komputer yang dinyalakan dan dioperasikan dari satu lokasi fisik untuk mengelabui sistem perusahaan. Laptop-laptop itu terhubung lewat perangkat KVM sehingga satu orang bisa mengendalikan banyak mesin sekaligus.

Tujuannya sederhana: membuat keberadaan pekerja jarak jauh terlihat sah. Perusahaan mengirim laptop ke alamat di AS, lalu perangkat dikonfigurasi agar akses jarak jauh dari luar negeri tidak terdeteksi sistem keamanan internal.

Modus Pekerja IT Korea Utara

Menurut hasil penyelidikan, para pelaku melamar pekerjaan jarak jauh memakai dokumen identitas warga AS yang dicuri atau dipalsukan. Mereka juga memanfaatkan VPN dan infrastruktur proxy agar lalu lintas internet tampak berasal dari dalam negeri.

Peran fasilitator di AS cukup sentral. Mereka menerima laptop dari perusahaan korban, menyimpan dan mengonfigurasi perangkat, memasang perangkat lunak akses jarak jauh, lalu menyalurkan penghasilan ke rekening yang dikendalikan Korea Utara.

Perusahaan keamanan siber CrowdStrike mengidentifikasi kelompok ini sebagai "Famous Chollima". Nama itu kini dipakai banyak korban untuk merujuk pada pola serangan yang sama. Penyidik juga menemukan sejumlah akun Google palsu yang diduga menopang aktivitas tersebut.

Kutipan Pejabat AS

"Investigasi ini bukan sekadar tentang penipuan. Ini menyangkut upaya rezim asing yang bermusuhan untuk menyusup ke perusahaan-perusahaan AS melalui identitas curian dan akses tersembunyi di dalam wilayah kami sendiri," kata Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Utara Texas, Ryan Raybould, Selasa (13/10), dikutip dari situs Kantor Kejaksaan AS.

Kepala FBI Dallas R. Joseph Rothrock menyebut Operasi Lonestar Roundup menyasar aktivitas siber yang mendukung program senjata pemusnah massal, rudal balistik, intelijen, dan nuklir Korea Utara. "Setiap laptop yang disita berpotensi mewakili satu perusahaan yang telah mempekerjakan IT Korea Utara," ujarnya.

Mengapa Kasus Ini Penting bagi Perusahaan

Skema ini mengeksploitasi celah yang lazim di proses rekrutmen remote: verifikasi identitas yang longgar dan pengawasan perangkat yang minim. Perusahaan mengirim aset IT ke alamat fisik, tetapi jarang memeriksa siapa yang benar-benar menyalakan perangkat itu setiap hari.

Bagi perusahaan di Indonesia yang makin banyak mempekerjakan tenaga remote lintas negara, pola serupa layak diwaspadai. Pemeriksaan dokumen identitas berlapis, verifikasi lokasi lewat kebijakan akses, dan audit perangkat kerja menjadi kontrol dasar yang kerap terlewat.

Departemen Kehakiman AS menyatakan investigasi masih berlangsung. Mereka berkomitmen memberantas jaringan keuangan ilegal Korea Utara sekaligus melindungi perusahaan AS dari penyusupan terselubung lewat jalur kerja jarak jauh.

Follow kabarpontianak.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks