PONTIANAK — Tiga tanaman lokal Kalimantan Barat yang selama ini dikenal masyarakat sebagai tanaman obat tradisional, kini tengah diteliti lebih dalam oleh akademisi. Tim peneliti dari Universitas Andalas (UNAND) mengklaim bahwa kombinasi spesifik dari tanaman-tanaman ini memiliki potensi untuk menekan kadar gula darah dan tekanan darah tinggi secara bersamaan.
Penelitian yang dilakukan di laboratorium UNAND ini menyasar tiga jenis tanaman yang banyak ditemukan di hutan dan pekarangan warga Kalbar. Meski belum menyebutkan nama spesies tanaman tersebut secara rinci dalam publikasi awal, para peneliti memastikan bahwa ketiganya bukan tanaman langka dan mudah dibudidayakan.
Apa Kandungan yang Membuat Tanaman Ini Efektif?
Para peneliti menemukan bahwa ketiga tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif yang saling melengkapi. Beberapa senyawa bekerja menghambat enzim pengubah gula menjadi glukosa, sementara senyawa lain berfungsi sebagai vasodilator alami yang melebarkan pembuluh darah.
“Kombinasi ini yang membuatnya unik. Tidak banyak tanaman herbal yang bisa bekerja di dua jalur metabolisme berbeda secara simultan,” ujar salah satu anggota tim peneliti UNAND dalam keterangannya.
Mengapa Tanaman Lokal Kalbar Menjadi Fokus Riset?
Kalimantan Barat dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk ratusan jenis tanaman obat yang digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak. Namun, sebagian besar tanaman ini belum pernah diuji secara ilmiah untuk potensi farmakologisnya.
Penelitian UNAND ini merupakan bagian dari upaya untuk menjembatani pengetahuan tradisional dengan pengobatan modern. Tim peneliti melakukan ekstraksi dan uji in-vitro terhadap sampel tanaman yang dikumpulkan dari beberapa wilayah di Kalbar.
Kapan Ramuan Ini Bisa Diakses Masyarakat?
Saat ini penelitian masih berada pada tahap uji laboratorium. Tim UNAND menargetkan uji praklinis pada hewan dapat dimulai dalam beberapa bulan ke depan. Jika hasilnya konsisten, pengembangan menjadi fitofarmaka atau obat herbal terstandar bisa memakan waktu satu hingga dua tahun.
“Kami tidak ingin terburu-buru. Keamanan dan dosis yang tepat adalah prioritas utama sebelum produk ini bisa direkomendasikan ke publik,” tambah peneliti.
Apa Dampak Temuan Ini bagi Penderita Diabetes dan Hipertensi di Kalbar?
Temuan ini memberikan harapan baru bagi penderita penyakit degeneratif di daerah, terutama yang kesulitan mengakses obat-obatan kimia secara rutin. Jika berhasil dikembangkan, ramuan herbal ini bisa menjadi alternatif yang lebih murah dengan efek samping yang lebih minimal.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa ramuan ini bukanlah pengganti obat dokter. Pasien yang sedang menjalani pengobatan diabetes atau hipertensi tidak disarankan menghentikan obat tanpa konsultasi medis.
Apakah Tanaman Ini Bisa Dibudidayakan untuk Skala Industri?
Potensi budidaya cukup besar. Ketiga tanaman tersebut dikenal adaptif terhadap iklim tropis Kalbar dan tidak memerlukan perawatan intensif. Jika riset ini berlanjut ke tahap produksi, petani lokal bisa dilibatkan dalam rantai pasok bahan baku.
Tim UNAND berencana menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah Kalbar untuk mengembangkan pilot project budidaya tanaman obat ini di beberapa desa.