Pencarian

Pertamina Genjot Produksi Minyak dan Gas Bumi Demi Kurangi Impor di Tengah Rupiah Loyo

Sabtu, 06 Juni 2026 • 01:43:01 WIB
Pertamina Genjot Produksi Minyak dan Gas Bumi Demi Kurangi Impor di Tengah Rupiah Loyo
Pertamina mengoptimalkan sumur tua untuk menambah produksi minyak dan gas bumi.

KALIMANTAN BARAT — Pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir menjadi tekanan tersendiri bagi perekonomian Indonesia, terutama sektor energi. Pasalnya, harga minyak mentah yang dibeli dari luar negeri dibanderol dalam dolar AS, sehingga biaya impor membengkak otomatis. Untuk mengantisipasi hal ini, Kementerian ESDM meminta Pertamina untuk mengerahkan seluruh potensi sumur yang ada.

Sumur Idle Jadi Andalan Tambah Produksi

Salah satu strategi yang diinstruksikan adalah mengoptimalkan kembali sumur-sumur yang tidak lagi berproduksi atau idle. Pertamina disebut memiliki ribuan sumur tua yang masih menyimpan cadangan minyak. Pemerintah mendorong perusahaan pelat merah itu untuk melakukan workover dan stimulasi agar sumur-sumur tersebut bisa kembali mengalirkan minyak.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, menekankan pentingnya akselerasi ini. “Kami minta Pertamina menambah 10.000 barel per hari dari workover dan stimulasi sumur eksisting. Ini bisa dilakukan dalam waktu relatif singkat dibandingkan eksplorasi baru,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Mengapa Ini Mendesak Dilakukan Sekarang

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat beban subsidi energi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ikut membengkak. Dengan meningkatkan produksi dalam negeri, impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) bisa ditekan. Dampaknya, defisit neraca perdagangan migas dan tekanan terhadap rupiah bisa berkurang secara perlahan.

Langkah ini juga dinilai lebih realistis ketimbang menunggu proyek eksplorasi besar yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sumur-sumur eksisting yang idle bisa dihidupkan kembali dengan modal yang lebih kecil dan waktu yang lebih cepat.

Target Jangka Pendek dan Tantangan di Lapangan

Pemerintah menargetkan tambahan produksi 10.000 barel per hari dalam waktu dekat dari program ini. Namun, tantangan tetap ada. Biaya produksi dari sumur-sumur tua cenderung lebih tinggi karena membutuhkan teknologi injeksi dan perawatan ekstra. Meski begitu, langkah ini dinilai tetap lebih murah ketimbang membeli minyak impor di tengah kurs yang tidak stabil.

Pertamina kini tengah memetakan sumur-sumur mana saja yang potensial untuk diaktifkan kembali. Jika berjalan lancar, tambahan pasokan ini bisa mulai terasa dalam beberapa bulan ke depan dan membantu mengurangi tekanan impor migas nasional.

Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks