Kualitas udara di Singkawang, Kalimantan Barat, kini masuk kategori tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda belasan titik selama beberapa pekan terakhir. Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang pun mengambil langkah darurat dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi daring serta membentuk posko terpadu untuk mempercepat pemadaman.
SINGKAWANG — Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menyebut sedikitnya 12 titik api masih membutuhkan penanganan serius di tengah kondisi udara yang kian memburuk. Dampak asap tidak hanya mengganggu kesehatan warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas pendidikan hingga mobilitas melalui transportasi udara.
"Dampaknya dirasakan dari sisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Dari sisi udara atau ISPU, kondisi udara kita sudah tidak sehat," kata Tjhai Chui Mie di Singkawang, Sabtu.
Pembelajaran Daring dan Gangguan Penerbangan
Untuk mengurangi paparan asap terhadap anak didik, Pemkot Singkawang memutuskan mengurangi aktivitas pembelajaran tatap muka. Kegiatan belajar mengajar kini dilakukan secara daring hingga kondisi kualitas udara dinyatakan membaik.
Selain sektor pendidikan, kabut asap juga mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Singkawang. Akibatnya, akses masyarakat yang hendak keluar maupun masuk daerah ikut terdampak dan mobilitas menjadi tidak lancar.
Strategi Pengepungan Api dan Tambahan Sumur Bor
Pemerintah bersama TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, BPKS, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan pemadaman dengan strategi pengepungan terhadap titik api. Upaya ini bertujuan mempersempit area terbakar agar api tidak meluas ke lahan lain.
Dukungan logistik air juga diperkuat. TNI telah membuka tiga sumur bor, dan pemerintah daerah menyiapkan penambahan titik sumber air apabila kebutuhan di lapangan masih belum mencukupi.
"Kita juga akan membuat saluran agar api tidak merambat dari satu lahan ke lahan lainnya," ujarnya.
Peran Warga dan Swasta dalam Pemadaman
Pemkot Singkawang mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan pihak swasta yang turun tangan membantu penanganan karhutla. Sejumlah perusahaan dan relawan menyuplai air serta membantu penyemprotan di lokasi kebakaran.
"Ini menjadi kebanggaan kita karena masyarakat ikut bergerak," kata Tjhai Chui Mie.
Posko Terpadu dan Ikhtiar Doa Bersama
Untuk mempercepat koordinasi di lapangan, pemerintah daerah telah membentuk posko penanganan karhutla di Singkawang Selatan dan Singkawang Utara, serta posko pusat di Kantor Wali Kota Singkawang. Tim gabungan terus melakukan pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan.
Di tengah upaya teknis tersebut, Pemkot Singkawang juga menggandeng tokoh lintas agama untuk menggelar doa bersama memohon turunnya hujan. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang Muhlis mengatakan pihaknya telah mengimbau masjid-masjid untuk mendoakan hujan dalam khutbah dan pelaksanaan salat Jumat.
"Mudah-mudahan hujan segera turun," katanya.
Muhlis menambahkan, apabila hujan belum juga turun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Singkawang dijadwalkan kembali menggelar rapat pada 1 September 2026 untuk membahas kemungkinan pelaksanaan Shalat Istisqa'.