Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan melaporkan luas lahan terbakar akibat karhutla di provinsinya kini tersisa sekitar 200 hektare, menyusut drastis dari total 38.310 hektare yang sempat terbakar. Penurunan ini diiringi berkurangnya titik api dari lebih dari 2.000 menjadi sekitar 156 titik berdasarkan pemantauan terakhir.
PONTIANAK — Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan memastikan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan progres signifikan. Luas area yang terbakar di wilayahnya kini menyisakan sekitar 200 hektare, turun tajam dari luasan kumulatif yang mencapai 38.310 hektare.
"Indikasi luasan yang terbakar kurang lebih 38.310 hektare. Dan sekarang Alhamdulillah tinggal kurang lebih 200 hektare lahan kita yang masih terbakar," kata Ria Norsan di Pontianak, Selasa.
Penurunan Jumlah Titik Api dan Faktor Hujan
Berdasarkan pemantauan terakhir, titik api di Kalimantan Barat tercatat sekitar 156 titik. Angka ini berkurang drastis dibandingkan periode sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 2.000 titik.
Ria Norsan menilai perkembangan ini adalah hasil kerja bersama seluruh pihak. Namun, ia mengingatkan agar tim gabungan tidak mengendurkan upaya karena api masih menyala di sejumlah kawasan.
Hujan yang turun di sebagian daerah seperti Kabupaten Sambas dan Ketapang membantu proses pendinginan lahan. Meski begitu, wilayah lain yang belum diguyur hujan masih membutuhkan penanganan intensif.
734 Kasus ISPA Terkait Kabut Asap hingga 5 September 2026
Di luar kerusakan lingkungan, Gubernur Norsan menyoroti dampak kabut asap terhadap kesehatan warga. Data dari pemerintah daerah mencatat 734 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 5 September 2026.
Para kepala daerah diminta menjadikan perlindungan kesehatan masyarakat sebagai prioritas di tengah upaya pemadaman yang masih berjalan.
Penanganan Terpadu Lintas Instansi
Persoalan karhutla menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Kerja Gubernur dengan Bupati/Wali Kota se-Kalimantan Barat Tahun 2026. Penanganan dilakukan secara terpadu melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, brigade pemadam kebakaran, relawan, mahasiswa, dan elemen masyarakat lain.
Norsan meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat koordinasi, baik dalam hal pemadaman maupun mitigasi kesehatan. Targetnya jelas: kebakaran tidak kembali meluas dan kualitas udara segera membaik.