KALIMANTAN BARAT — Kemenangan 2-0 atas Thailand di leg pertama bukan sekadar keunggulan agregat. Hasil itu mengubah peta kekuatan jelang leg kedua final Piala AFF 2026 di Stadion My Dinh. Vietnam tidak perlu menang untuk mengangkat trofi; hasil imbang berapa pun skornya sudah cukup. Bahkan, kekalahan dengan selisih satu gol pun tetap mengantar mereka menjadi juara karena unggul dalam aturan gol tandang.
Kebobolan Satu Gol dalam 7 Laga, Tembok Pertahanan Kokoh
Perjalanan Vietnam di turnamen ini nyaris sempurna. Dari tujuh laga yang sudah dijalani, mereka belum terkalahkan. Lebih impresif lagi, lini belakang Vietnam baru kebobolan satu gol. Satu-satunya pemain yang berhasil menembus pertahanan mereka adalah Iago Bento dari Kamboja.
Catatan itu membuat para penyerang Thailand, termasuk striker andalan mereka, gagal berbuat banyak di leg pertama. Ketatnya lini belakang menjadi pembeda Vietnam dengan tim-tim lain di turnamen ini.
Agregat 19-1: Ketajaman Lini Depan yang Menakutkan
Produktivitas gol Vietnam juga jadi senjata utama. Total 19 gol sudah mereka ciptakan sepanjang turnamen, dengan hanya satu gol balasan dari lawan. Rata-rata hampir tiga gol per pertandingan menunjukkan konsistensi lini serang, bukan hanya sekadar kebetulan.
Ketajaman itu pula yang membuat Thailand wajib menang dengan selisih minimal tiga gol di My Dinh untuk membalikkan keadaan. Sebuah misi yang teramat sulit mengingat performa solid Vietnam sepanjang Piala AFF 2026.
Rekor Final: Tiga Gelar dalam Tiga Kesempatan
Sejarah juga berpihak pada Vietnam. Dari tiga penampilan di partai puncak Piala AFF, mereka selalu pulang dengan gelar juara. Koleksi trofi mereka datang pada 2008, 2018, dan 2024. Kini, peluang keempat untuk menambah gelar ada di depan mata.
Thailand, yang notabene juara bertahan, justru berada di posisi terjepit. Mereka harus tampil agresif sejak menit awal, sebuah risiko yang bisa membuka ruang bagi serangan balik cepat Vietnam. Laga leg kedua dipastikan berjalan ketat, dengan tekanan besar berada di pundak tim tamu.