Pencarian

Petani Mempawah Terapkan F1 Embio untuk Lahan Gambut, Teknologi Ini Disebut Mampu Tekan Risiko Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 • 14:46:31 WIB
Petani Mempawah Terapkan F1 Embio untuk Lahan Gambut, Teknologi Ini Disebut Mampu Tekan Risiko Karhutla
Petani di Mempawah, Kalimantan Barat, memperkenalkan teknologi F1 Embio sebagai pembenah tanah gambut tanpa pembakaran.

PONTIANAK — Praktik pembukaan lahan gambut dengan cara dibakar memang memberikan efek cepat bagi petani karena abu hasil pembakaran mampu menaikkan pH tanah dalam waktu singkat. Namun, dampak jangka panjangnya justru merusak struktur tanah, menghilangkan mikroorganisme baik, hingga meningkatkan risiko erosi dan karhutla. Kondisi inilah yang mendorong petani di Kalimantan Barat mulai melirik teknologi budidaya tanpa bakar.

Salah satu teknologi yang kini diperkenalkan adalah F1 Embio, sebuah sistem fermentasi yang berfungsi sebagai pembenah struktur tanah sekaligus penetralisir keasaman lahan gambut. Metode ini disebut relevan diterapkan di wilayah dengan karakteristik tanah gambut yang rentan terbakar, seperti di Kalimantan Barat.

Mengapa Petani Mulai Tinggalkan Cara Bakar?

Muhaimin, SP., peneliti dan praktisi pertanian lahan gambut asal Antibar, Kabupaten Mempawah, mengaku kerap merugi akibat praktik pembakaran yang merambat liar. Komoditas seperti jahe yang ditanamnya sering kali terbakar sia-sia sebelum sempat dipanen karena rambatan api karhutla.

"Di tempat kami, komoditas seperti jahe yang kami tanam kerap terbakar sia-sia sebelum sempat dipanen akibat rambatan api karhutla. Ini kerugian yang luar biasa bagi petani," ujar Muhaimin, alumni Fakultas Pertanian Universitas Tribuana Malang yang juga kader terampil petani gambut Badan Restorasi Gambut.

F1 Embio dan Peran Mikroorganisme Baik

Berbeda dengan metode bakar yang merusak ekosistem tanah, F1 Embio justru berfungsi sebagai induk mikroorganisme baik. Mikroorganisme tersebut membantu memperbaiki kondisi tanah sekaligus menghambat pertumbuhan jamur yang merugikan tanaman di lahan gambut.

Menurut Muhaimin, pertanian tradisional leluhur tetap relevan untuk dilestarikan dengan mengedepankan efisiensi dan peningkatan ekonomi jangka panjang. Kehadiran teknologi modern yang murah, seperti sistem fermentasi F1 Embio, dinilai menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kebutuhan produktivitas.

"Era modern kini sudah menyediakan teknologi murah untuk dipraktikkan, seperti sistem fermentasi F1 Embio yang terbukti efektif menaikkan produktivitas lahan gambut tanpa harus merusak lingkungan," jelasnya.

Bahan Baku F1 Embio: Limbah Pertanian di Sekitar

Bagi kelompok tani yang ingin mencoba, bahan pembuatan F1 Embio terbilang mudah ditemukan karena memanfaatkan limbah pertanian yang tersedia di sekitar lahan. Formula yang digunakan antara lain bonggol pisang yang mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) alami, dedak, gula, EM4, dan micin atau penyedap rasa.

Kombinasi bahan-bahan tersebut difermentasi menjadi larutan yang kemudian diaplikasikan ke lahan gambut. Cara ini dinilai lebih ekonomis dibandingkan membeli pupuk kimia dalam jumlah besar, sekaligus ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi karbon dari pembakaran.

Teknologi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi petani gambut di Kalimantan Barat untuk tetap produktif tanpa memperparah risiko bencana asap yang kerap melanda provinsi tersebut setiap musim kemarau.

Follow kabarpontianak.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pontianakinfo.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks