PONTIANAK — Satgas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat menyatakan patroli udara digelar untuk membaca kondisi terkini di lapangan sekaligus mendeteksi indikasi kebakaran yang butuh penanganan lanjut. Helikopter PK-ALE diterbangkan menyisir tiga area rawan dalam satu hari operasi.
Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalbar, Daniel, mengatakan pemantauan dari udara memberi gambaran yang tidak selalu bisa didapat petugas darat.
"Patroli udara dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini di lapangan sekaligus mendeteksi indikasi kebakaran yang membutuhkan penanganan lebih lanjut," kata Daniel.
Ketapang Jadi Prioritas karena Titik Panas Terbanyak
Data BMKG yang disampaikan BPBD pada hari yang sama menempatkan Ketapang sebagai kabupaten dengan sebaran titik panas terbanyak di Kalimantan Barat. Karena itu, dua wilayah administratif di Ketapang — bagian selatan dan bagian utara — masuk dalam jalur penyisiran helikopter.
Kayong Utara digarap dengan logika berbeda. Patroli di sana diarahkan untuk mengantisipasi potensi kebakaran sejak dini, sebelum indikasi api membesar.
Menjangkau Wilayah yang Tak Terakses Jalur Darat
Sebagian titik rawan karhutla di Kalbar berada di area yang sulit dijangkau lewat jalur darat. Patroli udara menutup celah itu, sehingga petugas bisa memeriksa kondisi aktual tanpa menunggu laporan dari lapangan.
Hasil pemantauan dipakai sebagai bahan koordinasi dengan petugas di lapangan. Dari situ, langkah penanganan ditentukan sesuai kondisi sebenarnya, bukan berdasarkan asumsi.
Patroli Udara Melengkapi Pemeriksaan Darat
Pemprov Kalbar memperkuat koordinasi antarsatuan tugas agar pengawasan dan penanganan karhutla berjalan terpadu. Patroli udara berfungsi melengkapi pemeriksaan darat, sehingga indikasi kebakaran bisa diverifikasi lebih dulu sebelum ditindaklanjuti.
Lewat langkah tersebut, pemerintah berharap potensi kebakaran diketahui lebih cepat. Risiko meluasnya karhutla ditekan, dan keselamatan masyarakat di wilayah rawan tetap terjaga.