PONTIANAK — PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Pontianak resmi meluncurkan Gerakan Literasi Mobile dan Online (GLIMOLING) untuk memperkuat akses pendidikan digital hingga ke pelosok Kalimantan Barat. Program ini tidak sekadar menyediakan buku elektronik, tetapi juga menghadirkan perangkat mobile yang bisa menjangkau desa-desa tanpa sinyal internet stabil. Langkah ini menjadi respons atas minimnya fasilitas literasi di wilayah yang secara geografis terisolasi.
Data internal PLN menunjukkan, dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, setidaknya tujuh di antaranya masih masuk kategori daerah tertinggal dalam hal akses informasi digital. Banyak sekolah di Kecamatan Menyuke, Landak, misalnya, tidak memiliki perpustakaan memadai. “GLIMOLING hadir untuk menjembatani kesenjangan itu,” kata Koordinator Program GLIMOLING, Andi Saputra, dalam peluncuran di Pontianak, pekan lalu.
Program ini mengandalkan dua pendekatan. Pertama, mobil perpustakaan keliling yang dilengkapi perangkat komputer dan koneksi satelit. Kedua, platform digital yang bisa diakses melalui aplikasi ponsel pintar tanpa kuota besar. Tim PLN juga mendistribusikan tablet ke 12 titik posko literasi di desa-desa binaan.
Pelajar di SMP Negeri 2 Sengah Temila, Landak, misalnya, kini bisa mengakses 500 judul buku digital dan video pembelajaran sains. Guru-guru di sana juga mendapat pelatihan penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif. “Anak-anak jadi lebih semangat karena bisa belajar dengan gambar dan video, tidak hanya teks,” ujar Kepala Sekolah SMPN 2 Sengah Temila, Maria Ulfah.
GLIMOLING tahap awal menyasar lima kabupaten: Pontianak, Landak, Sanggau, Bengkayang, dan Kubu Raya. Target berikutnya adalah daerah perbatasan seperti Entikong dan Kapuas Hulu. PLN menargetkan 50 desa terlayani hingga akhir tahun ini. Setiap desa akan mendapat kunjungan mobil literasi sebulan sekali dan akses platform digital 24 jam.
PLN mengalokasikan dana dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebesar Rp 1,2 miliar untuk tahun pertama. Anggaran itu mencakup pengadaan mobil, perangkat IT, dan pelatihan tenaga pendamping. Ke depan, PLN menggandeng Dinas Pendidikan dan Perpustakaan Daerah untuk keberlanjutan program.
Seluruh layanan GLIMOLING gratis. Masyarakat hanya perlu mendaftar melalui aplikasi atau datang langsung ke posko literasi. Tidak ada biaya berlangganan. “Kami ingin literasi digital menjadi hak semua warga, bukan komoditas,” tegas Andi.
Tantangan terbesar adalah infrastruktur listrik di desa terpencil. Beberapa titik tidak memiliki aliran listrik 24 jam, sehingga pengisian daya perangkat menjadi kendala. PLN berencana menyediakan panel surya portabel untuk mengatasi masalah ini. Juga, masih ada warga yang belum melek teknologi sehingga butuh pendampingan ekstra.
Pemkab Landak menyambut baik program ini. Kepala Dinas Pendidikan Landak, Yohanes Bala, menyebut GLIMOLING sejalan dengan program daerah dalam meningkatkan indeks literasi. “Kami siap menyediakan relawan guru untuk mendampingi di lapangan,” katanya.
GLIMOLING sudah beroperasi sejak awal Februari 2026. Masyarakat bisa mengecek jadwal kunjungan mobil literasi melalui akun Instagram resmi PLN UP3 Pontianak atau menghubungi kantor PLN terdekat. Aplikasi GLIMOLING sudah bisa diunduh di Play Store dengan nama “GLIMOLING Kalbar”.
PLN menargetkan 100 ribu pengguna aktif dalam dua tahun. Selain itu, akan ada kerja sama dengan universitas untuk mengembangkan konten lokal, seperti buku tentang budaya Dayak dan sejarah Kalbar. “Kami tidak hanya membawa buku nasional, tapi juga muatan lokal agar anak-anak bangga dengan daerahnya,” pungkas Andi.