KALIMANTAN BARAT — Saya hidup di desa di Inggris Tenggara, sekitar 40 mil dari pusat London. Di sini, sinyal 4G O2 tergolong kuat untuk ukuran area rural. Tapi tetap ada titik buta. Saya sengaja mencari satu di peta coverage Ofcom yang kebetulan bersebelahan dengan pub — lengkap dengan tempat parkir luas. Lokasi ideal untuk menguji apakah layanan satelit 4G O2 — yang ditenagai Starlink milik SpaceX — benar-benar berguna, atau cuma gimmick.
Cara Kerja: Otomatis, Tapi Ada Syaratnya
Yang menarik, ponsel saya — Galaxy S26 Ultra — langsung tersambung ke satelit begitu saya parkir di zona mati, tanpa perlu setting manual. Prosesnya otomatis, mirip saat ponsel beralih dari Wi-Fi ke data seluler. Tapi ada aturan penting: koneksi satelit hanya aktif jika tidak ada sinyal seluler atau Wi-Fi sama sekali. Jika masih ada satu bar sinyal, ponsel akan menolak mencari satelit.
Saya bahkan sempat melihat ponsel mencoba koneksi satelit saat saya naik kereta bawah tanah London — padahal jelas tidak ada langit terbuka. Ini menunjukkan sistemnya sensitif terhadap jeda sinyal sekecil apa pun.
Di Dalam Mobil: Satu Bar, Tapi Tetap Terhubung
Saya duduk di dalam mobil dengan atap solid — tanpa sunroof. Anehnya, ponsel tetap mendapat satu bar dari tiga bar indikator satelit. Sinyal ini cukup untuk mulai memuat Google Maps, walau lambat: butuh 30-60 detik untuk aplikasi menampilkan peta sepenuhnya. Begitu saya menjulurkan tangan ke luar jendela dan mengarahkan ponsel ke langit, sinyal naik ke dua bar dalam semenit. Tapi tidak pernah mencapai tiga bar, meskipun langit cerah tanpa halangan.
Saya juga masuk ke dalam pub tua beratap jerami — koneksi langsung putus. Jadi sinyal satelit bisa menembus atap mobil, tapi tidak semua material bangunan.
Aplikasi Terbatas: Maps, Cuaca, Pesan — Bukan Netflix
Ini batasan paling krusial. Sistem ini memblokir aplikasi boros data seperti browser web, media sosial, dan streaming. Di Galaxy S26 Ultra, batasan ini tampak diterapkan di level sistem — bukan oleh operator. Aplikasi yang bisa dipakai hanya: Google Maps, Google Find Hub, Messages, dan aplikasi cuaca. Sisanya, termasuk aplikasi navigasi pihak ketiga, tetap offline.
Ini logis untuk skenario darurat: Anda tersesat di pegunungan, butuh peta, butuh menghubungi bantuan, butuh tahu apakah badai akan datang. Tapi jangan harap bisa scrolling TikTok atau nonton Netflix sambil menunggu.
Bukan Pengganti Sinyal Seluler Harian
Dengan harga £3 per bulan (sekitar Rp 60 ribu) atau $10 untuk T-Mobile di AS, layanan ini murah sebagai asuransi darurat. Tapi jangan bayangkan bisa menggantikan paket data harian Anda. Kecepatan loading Google Maps yang 30-60 detik jelas tidak kompetitif dibanding 4G biasa, apalagi 5G. Dan tanpa akses ke browser atau media sosial, Anda tetap akan merasa "offline" dalam banyak hal.
Untuk pengguna di Indonesia, layanan serupa belum tersedia secara resmi. Tapi konsepnya menarik: operator seluler bisa menawarkan add-on satelit untuk daerah terpencil — asalkan ada kerja sama dengan penyedia seperti Starlink. Untuk saat ini, sistem ini adalah jaring pengaman yang solid, bukan solusi konektivitas utama.
Kesimpulan: Worth It Sebagai Backup, Bukan Daily Driver
- Kelebihan: Koneksi otomatis tanpa setting manual; bekerja di dalam mobil; aplikasi navigasi dan komunikasi tetap bisa dipakai; harga terjangkau
- Kekurangan: Hanya untuk aplikasi terbatas; loading lambat (30-60 detik); tidak bisa streaming atau browsing; mudah putus jika ada halangan fisik tebal
- Cocok untuk: Pendaki, pengendara jarak jauh di daerah terpencil, siapa pun yang sering kehilangan sinyal di lokasi kritis
- Tidak cocok untuk: Pengguna yang ingin koneksi internet penuh di area tanpa sinyal seluler
Layanan ini adalah contoh nyata bahwa teknologi satelit langsung ke ponsel sudah mulai berfungsi — meski masih dalam tahap awal dengan banyak batasan. Untuk sekarang, ini adalah fitur penyelamat, bukan pengubah gaya hidup.