KALIMANTAN BARAT — FIFA melayangkan dokumen tandingan di pengadilan distrik Florida, menuduh UEFA menjalankan kampanye misinformasi untuk menggagalkan pencalonan kembali Gianni Infantino sebagai presiden. Sengketa ini memperuncing perpecahan antara badan pengatur dunia dan Eropa menjelang pemilihan Maret 2027.
Dokumen yang diajukan FIFA ke pengadilan Amerika Serikat itu merespons manuver hukum UEFA yang meminta pengungkapan bukti terkait skema FIFA Forward Enterprise (FFE). Proyek investasi swasta senilai puluhan miliar dolar tersebut kini sudah ditinggalkan, tetapi polemiknya masih panas.
Bulan lalu, UEFA mengancam mengajukan pengaduan pidana di Swiss terhadap Infantino. Tudingannya berat: salah kelola kriminal karena mendorong proposisi yang nilainya dinilai terlalu rendah demi keuntungan pribadi.
FIFA Bantah Valuasi Rp 20 Miliar Dolar, Sebut Kritikus Salah Paham
Tim hukum FIFA bersikeras penelaahan proyek investasi swasta adalah kewajiban organisasi, bukan rencana rahasia. Mereka menuduh UEFA sengaja salah memahami struktur keuangan proposal FFE.
UEFA mengklaim usaha tersebut curang karena dinilai hanya 20 miliar dolar. FIFA membalas para pengkritiknya keliru mencampuradukkan nilai ekuitas dengan total enterprise value, yang menurut mereka berada di atas 30 miliar dolar.
"Tanpa dasar apa pun, UEFA menyiratkan bahwa Tn. Infantino berupaya mengambil keuntungan pribadi dari proposal FFE," kata FIFA dalam berkas tersebut, yang dilihat Reuters.
"Saran UEFA bahwa Tn. Infantino melanggar hukum atau prinsip etika apa pun sama sekali tidak berdasar."
FIFA Serang Balik Permohonan Hukum UEFA di Pengadilan AS
FIFA tidak menahan diri mengecam upaya UEFA mendapatkan dokumen sensitif. Permohonan itu disebut memuat sejumlah pernyataan palsu atau menyesatkan tentang FIFA dan Infantino.
Badan pengatur sepak bola dunia itu juga menuduh mitranya dari Eropa melakukan ketidaktahuan yang disengaja. "UEFA, baik secara sengaja maupun karena ketidaktahuan, menyamakan nilai ekuitas dengan nilai perusahaan," tambah berkas itu.
FIFA menegaskan proposal FFE akan membutuhkan ratifikasi menyeluruh dari seluruh 211 asosiasi anggota. Mereka juga mendesak pengadilan AS mencermati timing politik gugatan tersebut.
"Tepat sebelum pemilihan FIFA, UEFA mengajukan Permohonan 1782 ini (dan tiga lainnya) sambil menyebarkan informasi keliru terkait Tn. Infantino," demikian tertulis dalam dokumen itu.
"Pengadilan ini harus menolak setiap upaya untuk memengaruhi pemilihan presiden FIFA berdasarkan alasan-alasan ini."
Proyek Investasi Piala Dunia yang Gagal dan Krisis Kepemimpinan
Inisiatif FFE awalnya mengusulkan penjualan saham menguntungkan di Piala Dunia dan turnamen besar lainnya kepada investor swasta. Proyek itu dibatalkan pada Juli setelah ditentang keras UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia.
Ketiga konfederasi menyebut minimnya konsultasi sebagai alasan utama penolakan. Kegagalan ini memicu krisis kepemimpinan besar di tubuh FIFA.
UEFA secara terbuka kehilangan kepercayaan kepada Infantino. Mereka memimpin pemberontakan yang pada akhirnya memicu seruan agar administrator asal Swiss itu mundur.
FIFA memandang tekanan hukum yang terus berlangsung sebagai serangan politik yang diperhitungkan, bukan upaya tulus menegakkan keadilan. Kubu Infantino menyebut permintaan pengungkapan hukum itu sangat tidak masuk akal dan beritikad buruk.
Tenggat 18 November dan Ambisi Masa Jabatan Keempat
Infantino tetap bertekad mengamankan masa jabatan keempat ketika pemilihan presiden digelar pada Maret 2027. Para pengkritik dan lawan politiknya menghadapi tenggat 18 November untuk mengajukan kandidat alternatif yang kredibel.
Untuk meredam keresahan yang meningkat, Infantino baru-baru ini mengusulkan peninjauan independen terhadap proses pengambilan keputusan internal FIFA. Langkah itu dinilai upaya meredakan ketegangan dengan UEFA, meski belum jelas apakah akan berhasil atau justru membuka jalan pertarungan hukum lebih lanjut.