KALIMANTAN BARAT — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggelar BTN Housingpreneur Batch 3 di Aula Timur Institut Teknologi Bandung, Selasa (13/10), untuk menjaring gagasan mahasiswa dan peneliti sektor perumahan. Program ini menyasar sekitar 130 industri turunan, dari arsitektur hingga pembiayaan, guna mendukung target pembangunan 3 juta rumah.
Regional Office Head BTN Kantor Wilayah Jawa Barat, Asvianti Handaru, mengatakan sektor perumahan tidak bisa lagi dipandang sekadar urusan pembangunan fisik dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ekosistemnya merangkai ratusan sektor terkait yang saling bergantung. Karena itu, BTN menilai pendekatan satu disiplin ilmu tidak cukup untuk menjawab persoalan hunian nasional.
Asvianti menyebut ajang ini sebagai wadah menjaring gagasan dari kampus, bukan sekadar sosialisasi program perusahaan. Mahasiswa, dosen, hingga peneliti diajak mengubah hasil riset dan tugas kuliah menjadi solusi yang bisa diuji bersama pelaku industri.
Ekosistem 130 Industri Turunan Jadi Alasan Kolaborasi
Menurut Asvianti, ekosistem perumahan mencakup sekitar 130 industri turunan dan sektor terkait. Mulai dari arsitektur, desain, material bangunan, metode konstruksi, teknologi digital, smart living, sampai pembiayaan dan aspek keberlanjutan.
Keragaman bidang itu membuat pengembangan sektor perumahan menuntut kolaborasi multidisiplin. Berbagai keahlian tersebut saling melengkapi untuk menghasilkan solusi hunian yang lebih baik.
"Karena itu, pengembangan sektor perumahan membutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang keahlian. Inilah yang menjadi salah satu landasan pengembangan BTN Housingpreneur yang kami perkenalkan di ITB," kata Asvianti.
Dukung Target 3 Juta Rumah, Fokus pada Keterjangkauan
BTN turut mendukung program pembangunan 3 juta rumah yang diusung pemerintah. Namun, kata Asvianti, tantangannya bukan hanya membangun lebih banyak unit. Hunian yang dihasilkan harus tetap terjangkau dan berkualitas.
Dua syarat itu yang membuat BTN membuka ruang bagi sivitas akademika untuk mengembangkan gagasan dari penelitian, tugas perkuliahan, maupun pengalaman lapangan. Asvianti berharap ide-ide tersebut tidak berhenti di laboratorium atau di atas kertas, melainkan bisa diuji dan dikembangkan bersama pelaku industri.
"Bawalah gagasan itu ke BTN Housingpreneur Batch 3 agar dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan dampak nyata bagi ekosistem perumahan Indonesia," ungkap Asvianti.
Proteka, Hasil Program Sebelumnya untuk Bangunan Tahan Gempa
Salah satu inovasi yang lahir dari BTN Housingpreneur 2025 adalah Proteka, solusi perkuatan bangunan yang dikembangkan Zamzam Multazam. Inovasi ini berfokus pada upaya mengurangi risiko kerusakan bangunan akibat gempa bumi.
Teknologi yang dipakai berupa pelapis yang diperkuat serat atau fiber-reinforced coating. Pendekatan ini menambah kekuatan struktur bangunan tanpa harus membongkar keseluruhan konstruksi.
Bagi BTN, keberadaan Proteka menjadi bukti program ini bisa menghasilkan produk yang menyentuh persoalan teknis di lapangan. Bukan hanya konsep yang berhenti di presentasi.
Dampak bagi Industri dan Konsumen Rumah
Bagi kalangan kampus, BTN Housingpreneur membuka jalur uji coba gagasan yang selama ini sulit diakses mahasiswa dan peneliti. Bagi BTN, program ini menjadi cara menjaring talenta sekaligus memasok inovasi untuk lini bisnis perumahan.
Konsumen rumah disebut bakal merasakan hasilnya jika inovasi seperti Proteka dan gagasan lain dari Batch 3 masuk ke pasar. Hunian yang lebih tahan gempa dan biaya pembangunan yang lebih efisien menjadi dua hal yang paling mungkin terasa langsung.
Langkah BTN ini memperkuat posisinya sebagai bank yang fokus pada sektor perumahan di tengah persaingan pembiayaan properti. Setelah Batch 3 di ITB, BTN diharapkan melanjutkan kolaborasi serupa dengan kampus lain agar pipeline inovasi perumahan nasional tidak bergantung pada satu sumber gagasan saja.