BENGKAYANG — Fasilitas penyimpanan beku yang ditinjau Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menampung hasil tangkapan nelayan pesisir Bengkayang, terutama sotong (Sepia spp.) dan sejumlah jenis ikan. Kunjungan itu berlangsung setelah Gubernur mendatangi Kampung Nelayan Sungai Soga dalam rangkaian kunjungan kerja yang sama.
Pengelola fasilitas mencatat kapasitas ekspor mandiri mencapai 100 hingga 200 ton per tahun. Sementara permintaan pasar domestik dan luar daerah mendekati 300 ton per tahun.
Sertifikat HACCP dan Registrasi UPI Masih Diurus
Perusahaan milik pengusaha lokal bernama Edi itu tengah melengkapi syarat ekspor secara mandiri. Dua dokumen yang diproses adalah Sertifikat HACCP dan nomor registrasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) untuk memenuhi ketentuan ekspor ke Vietnam.
Selama ini, produk perikanan dari fasilitas tersebut diekspor lewat perusahaan eksportir lain yang sudah memiliki legalitas. Jalur perantara itu membuat pengiriman harus transit melalui Jakarta sebelum mencapai negara tujuan.
Terminal Kijing Diharapkan Memotong Jalur Transit Jakarta
Gubernur menilai potensi usaha perikanan di fasilitas tersebut cukup besar. Tangkapan nelayan pesisir Bengkayang disebutnya mampu memenuhi pasar dalam negeri sekaligus membuka peluang pasar luar negeri.
"Ini menunjukkan bahwa potensi perikanan kita cukup besar. Kapasitas ekspornya bisa mencapai 100 sampai 200 ton per tahun, sedangkan permintaan pasar domestik dan luar daerah hampir 300 ton per tahun. Ini merupakan peluang ekonomi yang harus terus kita kembangkan," ungkap Ria Norsan.
Ria berharap perusahaan tersebut dapat mengirim produknya langsung melalui Terminal Kijing begitu persyaratan ekspor mandiri terpenuhi. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, katanya, siap membantu dari sisi regulasi dan koordinasi dengan instansi terkait.
"Saya berharap setelah perusahaan ini memiliki persyaratan ekspor sendiri, pengiriman produknya tidak perlu lagi melalui Jakarta, tetapi bisa langsung melalui Terminal Kijing. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat siap membantu dari sisi regulasi dan koordinasi dengan instansi terkait agar proses ini dapat berjalan dengan baik," jelasnya.
Ekspor Langsung Dinilai Tambah PAD Kalbar
Pemanfaatan Terminal Kijing sebagai jalur ekspor langsung disebut Gubernur akan memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah. Efisiensi distribusi dan daya saing produk perikanan lokal ikut terdorong.
Aktivitas ekspor itu juga berpotensi menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalimantan Barat melalui tumbuhnya usaha pendukung di sekitar jalur distribusi. Gubernur mendorong pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang didukung kemudahan perizinan, infrastruktur penyimpanan, serta akses pasar internasional yang lebih terbuka.
Nelayan Diminta Masuk BPJS Ketenagakerjaan
Di sela kunjungan, Ria Norsan menekankan pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi nelayan dan pekerja sektor perikanan. Risiko kecelakaan kerja di laut dinilainya cukup tinggi.
Gubernur meminta BPJS Ketenagakerjaan lebih proaktif menyosialisasikan kepesertaan program jaminan sosial kepada para nelayan. Manfaat yang ditekankan mencakup perlindungan risiko kecelakaan kerja dan santunan bagi ahli waris.
"Saya minta BPJS Ketenagakerjaan dapat melakukan sosialisasi kepada para nelayan dan pekerja sektor perikanan agar mereka memahami pentingnya perlindungan jaminan sosial. Pekerjaan di laut memiliki risiko yang cukup tinggi. Jika terjadi kecelakaan kerja atau hal yang tidak diinginkan, setidaknya keluarga atau ahli waris mendapatkan perlindungan melalui manfaat jaminan sosial," tegasnya.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pontianak Suhuri Aly menyatakan kesiapan menindaklanjuti arahan Gubernur melalui sosialisasi kepada nelayan dan pekerja sektor perikanan. Langkah itu diharapkan menaikkan pemahaman sekaligus kepesertaan pekerja perikanan dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan.