KALIMANTAN BARAT — NASA mengonfirmasi Parker Solar Probe kembali melakukan pendekatan dekat ke Matahari pada 3 Juni 2026. Ini adalah kali ke-28 wahana tersebut terbang melintasi bintang terdekat Bumi sejak diluncurkan pada 2018. Jarak tempuhnya mencapai 3,8 juta mil dari permukaan Matahari, menyamai rekor jarak dan kecepatan yang pertama kali dicatat pada Desember 2024.
Kecepatan maksimum Parker Solar Probe pada terbang lintas kali ini mencapai 430.000 mph. Angka itu sudah lima kali berhasil dipertahankan wahana tersebut. Tim misi menerima sinyal beacon pada Kamis lalu yang menandakan semua sistem berfungsi normal.
Perlindungan Termal yang Konsisten Jadi Kunci Ketahanan Wahana
Parker Solar Probe mengandalkan perisai panas (heat shield) yang mampu menahan suhu hingga 1.700 derajat Fahrenheit saat berada di titik terdekat Matahari. Di bawah perisai, selimut termal menjaga suhu internal wahana tetap stabil selama delapan tahun misi berlangsung.
"Konsistensi suhu itu adalah indikator utama kesehatan wahana," ujar John Wirzburger, insinyur sistem misi Parker Solar Probe di Johns Hopkins Applied Physics Laboratory. "Ini memberi tahu kami bahwa perisai panas tidak mengalami degradasi. Jika retak atau melemah, kami akan melihat suhu naik karena lebih banyak panas yang bocor."
Wahana ini tiba di Matahari saat periode tenang yang dikenal sebagai solar minimum. Kini Parker Solar Probe telah menyaksikan fase solar maksimum yang dikonfirmasi pada 2024, ketika aktivitas Matahari mencapai puncaknya dengan munculnya banyak bintik Matahari, semburan surya, dan lontaran massa korona. Data yang dikumpulkan membantu ilmuwan memahami bintang kita dan dampaknya terhadap cuaca antariksa.
Energi Surya AS Catat Rekor Baru, Lampaui Batu Bara
Laporan dari lembaga riset energi Ember mengungkapkan Mei 2026 menjadi bulan pertama dalam sejarah di mana energi surya menghasilkan listrik lebih banyak dari batu bara di Amerika Serikat. "Tenaga surya memasok 12,8 persen listrik AS, sementara batu bara turun ke 12,2 persen, posisi bulanan terendah keempat yang pernah tercatat," tulis Ember dalam laporannya.
Total output energi surya pada Mei mencapai 45,5 TWh, menjadikannya sumber listrik terbesar ketiga di AS. Batu bara hanya menghasilkan 43,4 TWh pada periode yang sama, turun 11 persen dibanding Mei 2025. Pada April 2026, batu bara bahkan mencatat rekor terendahnya sepanjang sejarah dengan 39,3 TWh.
Dalam lima tahun terakhir, pangsa batu bara dalam bauran listrik AS hampir separuhnya, dari 19,7 persen pada Mei 2021 menjadi 12,2 persen pada Mei 2026. Sebaliknya, pangsa energi surya lebih dari dua kali lipat dari 5,4 persen menjadi 12,8 persen dalam periode yang sama. Meskipun gas alam dan nuklir masih memimpin, Ember mencatat pada Maret lalu energi terbarukan secara kolektif menghasilkan listrik lebih banyak dari gas untuk pertama kalinya di AS.
Aurora Australis Terekam dari Luar Angkasa
Jessica Meir, komandan wahana antariksa misi NASA SpaceX Crew-12, membagikan video timelapse aurora australis (cahaya selatan) yang direkam dari kapsul Dragon yang terhubung ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). "Berbeda dengan aurora sebelumnya yang pernah saya lihat, kali ini aurora menari dan meliuk langsung di bawah kami, menampilkan pertunjukan yang luar biasa," tulis Meir di media sosial.
Fenomena aurora ini dipicu oleh aktivitas Matahari baru-baru ini. Astronot di ISS memiliki posisi istimewa untuk mengamati langsung dampak cuaca antariksa terhadap atmosfer Bumi.