Pasar baterai stasioner tengah mengalami ledakan permintaan. Di Amerika Serikat, penjualan baterai besar untuk menyimpan energi listrik telah berlipat ganda dalam dua tahun terakhir, sementara penjualan mobil listrik (EV) justru stagnan. Kondisi inilah yang mendorong raksasa otomotif seperti GM dan Ford untuk tidak lagi hanya memproduksi kendaraan, tetapi juga menjadi pemain energi.
Baterai Sodium-Ion: Senjata Baru GM yang Lebih Murah dan Aman
GM memperkenalkan baterai sodium-ion sebagai produk andalan pertamanya di sektor ini. Berbeda dengan baterai lithium-ion yang mahal dan bergantung pada rantai pasok yang dikuasai China, sodium-ion menawarkan keunggulan biaya rendah dan material yang melimpah.
“Ini memberi kami jalur menuju ketahanan rantai pasok dan material berbiaya rendah,” ujar Andy Oury, manajer perencanaan bisnis GM, kepada TechCrunch. Baterai ini juga tidak memerlukan sistem pendingin aktif dan memiliki siklus pengisian ulang yang lebih panjang dibandingkan lithium-ion.
Tesla Masih Mendominasi, Tapi Celah Pasar Mulai Terbuka
Saat ini, Tesla menguasai 82% dari total 57 gigawatt-jam (GWh) kapasitas penyimpanan energi yang terpasang tahun lalu. Margin keuntungan segmen energi Tesla mencapai 30%—dua kali lipat dari margin penjualan mobil listriknya sendiri. Angka ini jelas menggiurkan bagi GM yang margin kotornya hanya sekitar 11% dalam 15 tahun terakhir.
Meski potensi pasar besar, GM mengaku tidak akan terburu-buru. Baterai sodium-ion mereka baru akan siap diproduksi massal pada akhir dekade ini. “Kami akan mengembangkan keluarga sel yang tepat untuk pasar ini,” kata Kurt Kelty, wakil presiden baterai dan keberlanjutan GM.
Strategi Ganda: EV Tetap Jalan, Energi Jadi Ladang Baru
GM sengaja tidak menggunakan kapasitas pabrik baterai lithium-ion yang sudah ada untuk memproduksi baterai penyimpanan energi. Mereka khawatir akan kelabakan jika permintaan mobil listrik kembali melonjak. Sebagai gantinya, GM mengembangkan dua jenis baterai sekaligus: lithium-manganese-rich (LMR) untuk EV yang akan debut pada 2028 dengan harga 10% lebih murah, dan sodium-ion khusus untuk penyimpanan energi.
Keputusan ini juga merupakan antisipasi terhadap potensi pecahnya gelembung AI. Jika permintaan data center tiba-tiba turun, GM tidak ingin terjebak dengan kelebihan pasokan baterai yang salah sasaran.
Apa Artinya Bagi Pasar Energi Global?
Lonjakan permintaan listrik dari pusat data AI diperkirakan akan mendorong pemasangan baterai stasioner tahunan menembus 110 GWh pada 2030—hampir dua kali lipat dari kapasitas saat ini. Startup seperti Base Power dan Lunar Energy juga ikut berlomba mengumpulkan pendanaan besar untuk merebut pangsa pasar.
Dengan masuknya GM dan Ford, persaingan di sektor penyimpanan energi dipastikan akan semakin ketat. China yang selama ini mendominasi pemrosesan material baterai lithium-ion, kini harus menghadapi tantangan dari teknologi sodium-ion yang rantai pasoknya belum dikuasai oleh satu negara pun.